Artikel Lengkap Tentang Tenun Troso Jepara (Bag 2) | Web Edukasi - Sanabila.com

Home

Daftar Isi

Instagram

Google+

Facebook

Twitter

Contact

Pasang Iklan

Refresh
Loading...

Artikel Lengkap Tentang Tenun Troso Jepara (Bag 2)

Artikel Lengkap Tentang Tenun Troso Jepara (Bag 2). Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa artikel bagian kedua ini membahas mengenai data jumlah industri dan tenaga kerja, alat pembuatan tenun troso, dan hiruk pikuk tenun troso Jepara.

Artikel Lengkap Tentang Tenun Troso Jepara (Bag 2)
Tenun Troso Jepara


Dalam beberapa tahun terakhir, pengusaha tenun troso mengalami penurunan karena kurangnya bahan baku yang cukup dan sulitnya memasarkan hasil produksi kain tenun mereka kepada publik. Berikut beberapa data yang diambil dari paguyuban pengusaha tenun troso tahun 2007 hingga 2010.

Jumlah industri tenun troso dan jumlah tenaga kerja
Tahun
Jumlah industri
Jumlah tenaga kerja
2007
80
2400
2010
75
1200
Sumber : Data dari pimpinan paguyuban pengusaha tenun troso


Dari tabel di atas menunjukkan bahwa sektor industri tenun troso maupun jumlah tenaga kerja di Jepara mengalami penurunan yang signifikan. Pada tahun 2007 peningkatan jumlah pengusaha tenun troso sangat pesat karena masih diberlakukanya keputusan Gubernur Jawa Tengah pegawai negeri sipil (PNS) memakai seragam tenun torso setiap hari kamis.

Tenun troso Jepara di hasilkan dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Tenun yang dihasilkan menggunakan ATBM tentu mempunyai nilai yang lebih tinggi daripada kain yang dihasilkan dengan Alat Tenun Mesin (ATM). Hal tersebut dikarenakan pembuatan dengan menggunakan ATBM membutuhkan waktu yang relatif lama untuk membuat sehelai kain tenun troso sekitar 1-3 hari.

Minat masyarakat Jepara terhadap kain tenun troso masih minim, sempitnya wilayah pemasaran dan kurangnya promosi sebagai salah satu penyebabnya. Kain tenun troso tidak dijual dipasaran dan jarang dijumpai penjual kain troso di pasar-pasar tradisional Jepara. Produk kain tenun troso bisa diperoleh ditempat produksi yaitu di Desa Troso Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara. Masyarakat Jepara lebih memilih pakaian produksi luar Jepara seperti batik,lurik dan lain-lain. Produk kain atau pakaian umum lebih mudah didapat di pasaran dan harganya lebih murah dibandingkan dengan kain tenun troso.

Pengusaha tenun troso kurang mampu dalam pengelolaan manajemen yang sering dianggap hal yang mudah, sehingga kekurangan modal sering menghambat perkembangan usaha tenun troso karena menurut para pengusaha sistem keuangan usaha dan rumah tangga masih menjadi satu, sehingga laba usaha sering dikonsumsi dan tidak disalurkan untuk usaha. Pemasaran merupakan juga kendala yang dihadapi pengusaha tenun troso karena jumlah produksi tergantung dengan pesanan semakin banyak pesanan semakin banyak proses produksi.

Pengusaha tenun troso memerlukan modal yang cukup, tenaga kerja terampil, bahan baku cukup tersedia untuk menjamin kemajuan usaha serta menjamin persediaan barang. Penghambat perkembangan tenun troso disebabkan oleh adanya faktor-faktor produksi yang kurang mencukupi untuk kebutuhan proses pembuatan tenun troso.

Lokasi tempat usaha industri tenun troso merupakan suatu bentuk industry pedesaan, masyarakat desa tidak hanya sebagai buruh atau karyawan tetapi berperan juga sebagai pengusaha. Umumnya usaha dalam skala kecil yaitu suatu bentuk dari ekonomi pedesaan. Kegiatan ekonomi pedesaan tergantung dari sumber daya yang ada disekitar, khususnya sumber tenaga kerja. Menggunakan teknologi yang sederhana, umumnya pengusaha industri pedesaan tidak hanya penghasil barang, sebagai pedagang yang memasarkan hasil produksi.


Share on Google Plus
Written by: Sanabila. com
Sanabila, Updated at: 3/01/2016