Pengertian, Contoh, Dan Klasifikasi Resiko Dalam Asuransi | Web Edukasi - Sanabila.com

Home

Daftar Isi

Instagram

Google+

Facebook

Twitter

Contact

Pasang Iklan

Refresh
Loading...

Pengertian, Contoh, Dan Klasifikasi Resiko Dalam Asuransi

Pengertian, Contoh, Dan Klasifikasi Resiko Dalam Asuransi

Pengertian, Contoh, Dan Klasifikasi Resiko Dalam Asuransi
Setelah kita mempelajari sejarah, fungsi, dan definisi asuransi kita tentunya sudah mendapat gambaran tentang asuransi dan perusahaan asuransi. Perusahaan asuransi menjalankan bisnisnya dengan menjual janji-janji kepada masyarakat agar mengalihkan sebagian atau sepenuhnya resiko yang akan dia hadapi di kemudian hari. Pada artikel sanabila.com kali ini kita akan membahas tentang “Resiko” yang menjadi objek “jualan” perusahaan asuransi.

Risiko adalah bahaya, akibat atau konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang. Dalam bidang asuransi, risiko adalah suatu ketidakpastian (uncertainty) yang akan selalu dihadapi manusia dalam seluruh kegiatanya atau aktifitas kehidupannya, baik itu aktifitas pribadi (personal activity) dan aktifitas usaha (bussines activity).

Contoh :
Resiko Pribadi     : sakit, kecelakaan, dll
Resiko bisnis       : bangkrut, musnah karena kebakaran. Dll

Ada 4 (empat) jenis klasifikasi resiko yang berkaitan dengan asuransi berikut adalah klasifikasi resiko tersebut :
  • Resiko Murni (Pure Risk)

Resiko Murni (Pure Risk) adalah salah satu jenis resiko yang menimbulkan 2 (dua) kemungkinan. Pertama, Apabila resiko ini terjadi, akan menimbulkan kerugian. Kedua, apabila resiko ini tidak terjadi, tidak akan menimbulakn kerugian atau keuntungan. (no loss, no gain)
Contoh :
Kebakaran, Kecelakaan dll
  • Resiko Spekulatif (Speculative Risk)

Resiko Spekulatif (Speculative Risk) adalah resiko yang diakibatkan dari pertaruhan keberuntungan. Jika resiko ini terjadi maka akan menimbulkan 3 (tiga) kemungkinan. Pertama, akan menimbulkan keuntungan. Kedua, akan menimbulkan kerugian. Ketiga, tidak menimbulkan kerugian atau keuntungan. (gain, loss or no loss, no gain)
Contoh :
Berjudi, menanam saham dll
  • Resiko Khusus (Particular Risk)

Resiko Khusus (Particular Risk) adalah resiko yang apabila terjadi, baik penyebab maupun akibatnya hanya bersifat pribadi (lokal) tidak meliputi kerugian secara kuantitas dan kualitas yang sangat luas.
Contoh :
Pencuri, pengangguran dll
  • Resiko Fundamental (Fundamental Risk)

Resiko Fundamental (Fundamental Risk) adalah suatu resiko yang terjadi karena disebabkan oleh satu pihak tertentu (kebijakan pemerintah, bencana alam), dan menyebabkan dampak yang sangat luas.
Contoh :
Gempa bumi, letusan gunung berapi. dll

Dari keempat resiko yang telah dijelaskan diatas. Apakah semua resiko dapat dialihkan ke perusahaan asuransi ? atau resiko tersebut harus di tanggung sendiri ? atau di tanggung oleh pemerintah ? pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan timbul di benak para pembaca. Lihatlah perbedaan diantara keempat resiko dibawah ini.

Resiko Murni (Pure Risk)
Resiko Spekulatif (Speculative Risk)
Dapat diasuransikan
Tidak dapat diasuransikan
Resiko bersifat statis (tdak dapat berubah-rubah)
Resiko bersifat dinamis (selalu berubah-ubah)
Resiko Fundamental (Fundamental Risk)
Resiko Khusus (Particular Risk)

Dapat diasuransikan. Akan tetapi hanya dapat menjadi perluasan dari  pure risk (resiko murni)
Tidak dapat diasuransikan

Dari tabel diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa ada 2 (dua) resiko yang dapat diasuransikan. Pertama,  Resiko Murni (Pure Risk). Kedua, Resiko Fundamental (Fundamental Risk) dapat diasuransikan dengan berbagai syarat.

Akan tetapi tidak semua Resiko Murni (Pure Risk) dapat diasuransikan, Resiko yang dapat diasuransikan harus memiliki syarat-sayarat tertentu. Syarat-syarat tersebut adalah :

  • Akibat atau dampak harus dapat dinilai dengan uang, yang berarti bahwa resiko tersebut harus bersifat finansial (implisit)
  • Resiko bersifat Homogen (sama) dan terdapat dalam jumlah yang banyak. (the law of the large number)
  • Resiko tidak bisa di prediksi, harus terjadi secara kebetulan dan tidak disengaja.
  • Apabila resiko tersebut terjadi. Maka, tertanggung (client asuransi) akan mengalami kerugian, dalam artian tertanggung harus memiliki insurable interest atas objek yang akan dipertanggungkan (diasuransikan)
  • Resiko tersebut tidak bertentangan dengan kepentingan umum atau hukum yang berlaku di negara tersebut. Contoh., narkoba tidak boleh jadi objek yang di asuransikan.
  • Pembebanan premi harus sesuai dengan tingkat resiko yang dihadapi.


Baca Juga tentang :

Share on Google Plus
Written by: Janji Mustawa
Sanabila, Updated at: 5/12/2015